Show simple item record

dc.contributor.authorLESTARI, Kholifah Dwi
dc.date.accessioned2023-03-20T07:31:09Z
dc.date.available2023-03-20T07:31:09Z
dc.date.issued2022-07-27
dc.identifier.nim182110102006en_US
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/xmlui/handle/123456789/113187
dc.description.abstractHubungan Asupan Energi, Protein, Zinc, Penyakit Infeksi Dan Higiene Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso); Khofifah Dwi Lestari; 182110102006;2022; 153 halaman; Program Studi S1 Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Penurunan angka stunting pada balita termasuk kedalam program pembangunan kesehatan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Stunting merupakan indikator adanya malnutrisi kronis akibat kekurangan asupan zat gizi dalam periode yang lama sehingga mengakibatkan anak lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Stunting dapat terjadi saat di dalam kandungan, tetapi baru terlihat saat anak telah memasuki usia dua tahun. Pada tahun 2021, prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi sebesar 24,4% dibandingkan dengan batasan yang ditetapkan WHO sebesar 20%. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki masalah stunting sebesar 26,86%. Salah satu Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang menjadi prioritas intervensi penanganan stunting adalah Kabupaten Bondowoso yaitu sebesar 37% dan menjadi urutan ketiga terburuk di Jawa Timur. Beberapa faktor penyebab balita mengalami stunting adalah asupan makan, penyakit infeksi, higiene perorangan, dan sanitasi lingkungan yang buruk. Asupan makan yang tidak adekuat menyebabkan balita mengalami malnutrisi kronis dan rentan mengalami infeksi karena daya tahan tubuh menurun. Penyakit infeksi merupakan gejala klinis yang disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit sehingga balita yang mengalami penyakit infeksi akan mengalami penurunan nafsu makan dan menyebabkan status gizi kurang, sedangkan higiene sanitasi lingkungan yang tidak layak menyebabkan terjadinya penyakit infeksi yang merupakan penyebab langsung terjadinya stunting. Dari 25 Puskesmas yang tersebar di Bondowoso, Puskesmas Tamanan memiliki prevalensi stunting tertinggi kedua sebesar 13,61%. Rata-rata balita dengan kategori status gizi stunting sebagian besar terjadi pada kelompok usia 24-59 bulan, oleh karena itu kejadian stunting pada balita perlu mendapat perhatian dan tindakan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan energi, protein, zinc, penyakit infeksi dan higiene sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tamanan, Kabupaten Bondowoso. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini terdiri dari ibu yang memiliki balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tamanan yang berjumlah 350 balita. Sampel pada penelitian ini sebanyak 123 balita dengan teknik pengambilan simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis dengan menggunakan chi square dengan tingkat kepercayaan 95% . Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini berdasarkan asupan makan dibagi menjadi tiga indikator yang diteliti yaitu asupan energi, asupan protein, dan asupan zinc. Berdasarkan uji statistik bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi, asupan protein, dan asupan zinc dengan kejadian stunting pada balita (p<0,05). Hasil statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita (p<0,05), dan untuk variabel higiene sanitasi lingkungan dibagi menjadi empat indikator yang diteliti yaitu kepemilikan jamban, kebiasaan cuci tangan, sumber air minum, kualitas fisik air minum. Berdasarkan uji statistik bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan cuci tangan dengan kejadian stunting pada balita (p<0,05). Sedangkan kepemilikan jamban, sumber air minum, dan kualitas fisik air minum tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi, protein, zinc, dan penyakit infeksi menjadi faktor risiko kejadian stunting, sedangkan kebiasaan cuci tangan menjadi salah satu faktor protektif kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso. Saran yang dapat diberikan untuk dinas kesehatan adalah dapat memberikan sarana dengan cara membuat program dan memberikan bantuan serta arahan kepada instansi di bawahnya seperti puskesmas dan posyandu dengan cara memberikan intervensi yang mengarah pada ibu balita mengenai pedoman gizi seimbang dan isi piringku, serta bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memberikan sumber air terlindungi.en_US
dc.description.sponsorshipDr. Leersia Yusi Ratnawati, S.KM., M.Kes. Ruli Bahyu Antika, S.KM., M.Gizi.en_US
dc.publisherFakultas Kesehatan Masyarakaten_US
dc.subjectAsupan energi, protein, zincen_US
dc.subjectPenyakit Infeksien_US
dc.subjectHigiene Sanitasi Lingkunganen_US
dc.subjectStuntingen_US
dc.titleHubungan Asupan Energi, Protein, Zinc, Penyakit Infeksi dan Higiene Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Tamanan Kabupaten Bondowoso)en_US
dc.typeSkripsien_US
dc.identifier.prodiGizien_US
dc.identifier.pembimbing1Dr. Leersia Yusi Ratnawati, S.KM., M.Kes.en_US
dc.identifier.pembimbing2Ruli Bahyu Antika, S.KM., M.Gizi.en_US
dc.identifier.validatorratna_6 Januari 2023en_US
dc.identifier.finalizationFinalisasi Tanggal 20 Maret 2023_M. Arif Tarchimansyahen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record