Show simple item record

dc.contributor.advisorWALUYO, Joko
dc.contributor.advisorWAHYUNI, Dwi
dc.contributor.authorPUTRI, Nafi Tristiyani
dc.date.accessioned2018-09-12T07:13:08Z
dc.date.available2018-09-12T07:13:08Z
dc.date.issued2018-09-12
dc.identifier.nimNIM140210103039
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/87406
dc.description.abstractDi Pulau Jawa jenis cacing tanah yang banyak ditemukan antara lain jenis Pontoscolex coretrurus, Lumbricus rubellus, dan Pheretima javanica. Diantara ketiga cacing tersebut yang paling banyak jumlahnya adalah Pheretima javanica. Cacing tanah Pheretima javanica K. memiliki senyawa bioaktif antimikroba peptide yaitu lumbricin yang mengandung prolin 15% dari total berat kering dan tersusun dari 26 asam amino. Mode of Action senyawa lumbricin dengan cara merubah dan merusak mekanisme permeabilitas membran sehingga bakteri kehilangan metabolit sel. Senyawa ini juga menghambat sintesis protein dan DNA dalam sel. Secara empiris cacing tanah sering digunakan sebagai obat tipes atau demam typhoid. Demam typhoid merupakan penyakit menular yang tersebar diseluruh dunia yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pemanfaatan cacing tanah sebagai obat alami untuk demam typhoid mulai dilakukan, hal tersebut karena komponen kimia yang terkandung dalam cacing tanah tidak menimbulkan efek samping dan efek toksik yang berbahaya jika dikonsumsi. Pemanfaatan obat alami dengan menggunakan cacing tanah yang sudah kering dianggap efektif karena mengandung protein sebesar 60-70%, lemak kasar 7%, kalsium 0,55%, fosfor 1%, serat kasar 1,08%. Pemanfaatan cacing tanah Pheretima javanica K. kering atau dalam bentuk serbuk sebagai obat alami untuk penyembuhan demam thypoid tidak serta merta dapat diterima pada pelayanan kesehatan formal, hal tersebut harus didukung oleh bukti ilmiah tentang khasiat dan keamanan penggunaannya pada manusia. Bukti tersebut hanya dapat diperoleh dari penelitian yang dilakukan secara sistematik. Salah satu tahapan pengembangan obat tradisional adalah uji praklinik salah satunya yaitu uji toksisitas sub akut, uji toksisitas sub akut jangka waktu yang diberikan untuk mengamati efek toksik lebih lama sekitar 3 bulan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis aman dan mengetahui efek toksik dari obat atau bahan obat terhadap beberapa organ yang berpotensi terkena efek toksik tersebut meski telah diberikan dalam jangka waktu yang lama yaitu 90 hari. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan, tahap yang pertama adalah mengeringkan cacing tanah Pheretima javanica K. kemudian ditimbang dengan dosis 0,4 g/0,2 Kg BB; 0,8 g/0,2 Kg BB; 1,6 g/0,2 KgBB, dan 3,2 g/0,2 KgBB. Tahapan yang kedua adalah mensondekan serbuk cacing tanah Pheretima javanica K. pada tikus putih jantan dan betina sesuai dosis selama kurang lebih 3 bulan. Sebelum di induksi, dilakukan pengambilan darah, setelah di induksi selama 3 bulan, dilakukan pengambilan darah kembali. Data yang diamati adalah morfologi jantung, histopatologi jantung dan viskositas darah dari tikus putih baik jantan maupun betina. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil dari beberapa parameter yakni morfologi jantung, histopatologi jantung dan viskositas darah dari tikus putih strain wistar. Berdasarkan hasil yang didapatkan dari gambaran histopatologi jantung, tidak ditemukan adanya degenerasi dan nekrosis sel jantung pada tikus putih (Rattus norvegicus) strain wistar baik jantan maupun betina setelah di induksi serbuk cacing tanah Pheretima javanica K. selama 3 bulan. Gambaran morfologi organ jantung menunjukkan bahwa organ jantung tikus putih (Rattus norvegicus) setelah di induksi serbuk cacing tanah Pheretima javanica K. selama 3 bulan masih menunjukkan tanda jantung yang sehat yakni ditunjukkan dengan warna merah yang segar, lembap, dan tidak berlendir. Nilai viskositas darah menunjukkan hasil bahwa p>0,05 dengan nilai signifikasi untuk tikus jantan 0.98 sedangkan tikus betina 0.80, artinya serbuk cacing tanah Pheretima javanica K. tidak berpengaruh pada viskositas darah dari tikus putih (Rattus norvegicus) baik jantan maupun betinaen_US
dc.language.isoiden_US
dc.relation.ispartofseries140210103039;
dc.subjectSerbuk Cacing Tanahen_US
dc.titlePengaruh Serbuk Cacing Tanah (Pheretima Javanica K.) Kering Terhadap Gambaran Morfologi, Histopatologi Jantung Dan Viskositas Darah Tikus Putih (Rattus Norvegicus B.) Strain Wistaren_US
dc.typeUndergraduat Thesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record