Show simple item record

dc.contributor.authorIDA ROSANTI
dc.date.accessioned2014-01-29T01:57:09Z
dc.date.available2014-01-29T01:57:09Z
dc.date.issued2014-01-29
dc.identifier.nimNIM071520101014
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/26943
dc.description.abstractTahap perkembangan embrio pada kakao sangat menentukan keberhasilan teknik kultur jaringan, terutama untuk perbanyakan tanaman. Perbanyakan in vitro dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan organogenesis dan somatik embriogenesis. Dibandingkan dengan teknik organogenesis, regenerasi tanaman melalui somatik embriogenesis memiliki beberapa keunggulan karena mampu menghasilkan embrio bipolar dari sel atau jaringan vegetatif . Somatik embriogenesis merupakan suatu proses dimana sel somatik (baik haploid maupun diploid) berkembang membentuk tumbuhan baru melalui tahap perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet (Anonim, 2008). Embrio somatik dapat dicirikan dari strukturnya yang bipolar, yaitu mempunyai dua calon meristem, yaitu meristem akar dan meristem tunas. Dengan memiliki struktur tersebut maka perbanyakan melalui embrio somatik lebih menguntungkan dari pada pembentukan tunas adventif yang unipolar. Di samping strukturnya, tahap perkembangan embrio somatik menyerupai embrio zigotik. Secara spesifik tahap perkembangan tersebut dimulai dari fase globular, fase hati, fase torpedo, dan kotiledon (Winarsih et. al., 1995). Studi tentang tahapan perkembangan embrio sangat penting untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara perkembangan embrio secara alami pada biji dengan perkembangan embrio pada kultur embrio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kalus yang tahan terhadap PEG serta untuk mengetahui perkembangan embrio dari kelima bagian bunga. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Percobaan disusun menurut rancangan acak lengkap faktorial yang diulang 3 kali. Percobaan in vitro dengan 2 faktor yaitu faktor konsentrasi PEG (0, 5, 10, 15 g/l) dan faktor bagian bunga (petala, staminodia, dasar bunga, putik, anther). Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak semua bagian bunga dapat membentuk embrio pada media multiplikasi dengan penambahan PEG. Petala dapat membentuk kalus terbaik pada konsentrasi PEG 15 g/l yaitu sebesar 44 persen. Tahap perkembangan embrio hingga fase torpedo mengikuti perkembangan embrio secara alami.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries071520101014;
dc.subjectPERAKITAN KAKAO TOLERANen_US
dc.titlePERAKITAN KAKAO TOLERAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGANen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record