Show simple item record

dc.contributor.authorHaris Suhud
dc.date.accessioned2014-01-17T00:55:09Z
dc.date.available2014-01-17T00:55:09Z
dc.date.issued2014-01-17
dc.identifier.nimNIM070110301022
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/15645
dc.description.abstractRentannya Lamongan terhadap banjir terkait dengan fakta topografis. Sebagian Kabupaten Lamongan adalah daerah rawa-rawa yang memiliki ketinggian lebih rendah dari rata-rata permukaan air laut. Wilayah ini mirip dengan wilayah Jakarta yang sering menjadi langganan banjir. Wilayah Jakarta secara topografis juga merupakan dataran pantai yang rendah, bahkan sekitar 40 persen dari wilayah Jakarta lebih rendah daripada muka laut dan sebagian besar berbentuk rawa. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa banjir di Lamongan dan Jakarta dapat dikatakan sebagai “banjir kiriman”. Faktor penyebab lain banjir di Jakarta adalah pemukiman di bantaran sungai dan kebiasaan masyarakat membuang sampah di sembarang tempat. Kedua faktor ini bukan merupakan sebab utama dalam bencana banjir yang sering di Lamongan. Banjir yang terjadi di Lamongan juga disebabkan oleh beberapa hal yang saling terkait. Penyebab-penyebab tersebut adalah terjadinya perubahan lingkungan di sepanjang kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo akibat bertambahnya jumlah penduduk, perluasan pemukiman, dan area pertanian sehingga mengurangi vegetasi hutan yang berfungsi mengatur tatanan hidrologis. Perubahan tersebut juga meningkatkan erosi dan sedementasi di DAS Bengawan Solo, sehingga menjadi dangkal dan berkurang volume tampungnya. Banjir juga terkait dengan tingginya curah hujan yang menyebabkan meluapnya Sungai Bengawan Solo dan ketidakmampuan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri dalam menampung air. Besar dan kuatnya arus air sering menjebol tanggul atau tangkis sehingga air menerjang ke wilayah sekitar. Apalagi, banyak anak sungai yang mengalirkan airnya ke sungai Bengawan Solo. Upaya pengendalian banjir di Lamongan bisa dinilai kurang efektif. Buktinya berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah belum bisa mengendalikan banjir secara tuntas. Banjir masih sering melanda wilayah Lamongan. Berbagai upaya mencegah kerusakan dan konversi lingkungan ke fungsi non-ekologis di sepanjang DAS Bengawan Solo kurang berhasil akibat tekanan penduduk yang meningkat.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries070110301022;
dc.subjectBANJIR DI LAMONGANen_US
dc.titleBANJIR DI LAMONGAN TAHUN 1966 -1994 : STUDI HISTORIS TENTANG SEBAB-SEBAB, DAMPAK DAN PENGENDALIANNYAen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record